Blogger bersatu demi preservasi hutan Indonesia

“Ku lihat ibu pertiwi Sedang bersusah hati Air matamu berlinang, Mas intanmu terkenang.”

Ada rasa pilu dan haru menjadi satu setiap kali lagu-lagu kebangsaan berkumandang. Sering kali  semua lirik-liriknya sangat relevan dengan perkembangan jaman. Seperti potongan lagu Ibu Pertiwi yang menjadi lagu Nasional Indonesia  yang dipopulerkan oleh Ismail Marzuki.

“Hutan gunung sawah lautan. Simpanan kekayaan. Kini ibu sedang Lara. Merintih dan berdoa”

Apa iya,  di tahun 2019 ini Ibu Pertiwi masih Lara ?

Saya menjadi bertanya-tanya mengapa di lirik lagu ini kata pertama yang di tulis adalah Hutan sebagai simpanan kekayaan. Apa karena Indonesia di sebut sebagai Zambrud Khatulistiwa ?, ataukah ada hal lainnya ?

Sebagai orang yang lahir dan besar di kota besar, sangat minim sekali pengalaman dan pengetahuan saya tentang hutan, jenis-jenis pohon, memanjat pohon, bermain di hutan dan sawah, atau melakukan hal-hal yang sering kali teman-teman saya bicarakan tentang kampung halaman mereka.

Ketika banyak berita tentang kebakaran hutan, alih fungsi hutan, gajah, harimau dan hewan dilindungi semakin terdesak dan langka.  saya jadi bertanya-tanya, apa iya hutan kita akan habis? padahal ketika beberapa kali saya ke desa-desa untuk pekerjaan saya , saya melihat masih banyak “Hutan” dan pohon-pohon.  Pokonya sepanjang jalan kalau lihat pohon terus ada hijau-hijaunya ya udah itu pohon di hutan, walaupun orang-orang yang saya tanya jawabnya  perkebunan karet dan sawit, dan  tetep saya kira Hutan.

Suasana acara taken by Katerina

Bersyukurlah saya dan teman-teman Blogger diundang untuk mengikuti acara Forest Talk With Blogger Palembang pada tanggal 23 Maret 2019 di Benteng Kuto Besak Teater & Restaurant di Palembang yang diselenggarakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir.

“Ndy, udah di mana?, jadi dateng kan?” sebuah pesan meluncur di gawai saya dari teman-teman yang sudah ada di lokasi.  Grup Whatssup pun sudah mulai ramai dengan foto-foto. Matahari mulai naik, jam di tangan menunjukan pukul 10 dan akupun baru bisa datang. Dengan jalan yang lebih cepat aku menuju meja registrasi, Dan, Thanks God! ternyata acara baru mulai sekitar 10 menitan.

Pemaparan materi dari narasumber Dok:Hellobondy

Acara yang bertajuk “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”  yang dihadiri oleh sekitar 40an blogger  dari berbagai latar belakang dan niche tulisan.  Nah, acara ini juga hadir beberapa narasumber yang sangat ahli di bidangnya, diantaranya Dr. Amanda Katili Niode (Manager Climate Reality Indonesia), Dr. Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia), Murni Titi Resdiana (Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim), dan Bapak Janudianto (APP Sinar Mas).

Di acara ini juga aku jadi tercerahkan oleh pemaparan pemateri, dari  Ibu Atiek Widayati  yang menyampaikan tentang”Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan, Bagaimana semua pihak dapat berkontribusi”.

Sebelumnya aku masih bingung hutan itu yang gimana sih memangnya? setelah pemaparan materi akhirnya aku paham bahwa definisi HUTAN menurut KLHK 2008: “Suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30 %. jadi lebih kurang kaya di Taman Bogor kali ya?

Bumi semakin memanas, perubahan iklim kah? yash iklim kita berubah dan semakin memanas, seperti detik-detik pemilu #ehh. Beberapa media ataupun berita sering kali menggunakan istilah Global Warming, Perubahan Iklim dsb. But, for me. Bumi kita ini mengalami lebih dari sekadar “Perubahan” tapi kita dihadapkan dengan “Krisis Iklim”.

Apa aja sih sebenernya  yang kita hadapi ? Menurut pemaran materi dari  Ibu Atiek ada 3 hal terkait dengan isu hutan yakni :

  1. Deforestasi adalah Perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia.
  2. Degradasi hutan adalah Perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomasa dan/atau aspek lainnya)
  3. konversi hutan adalah Sebuah hutan alami yang di manfaatkan untuk berbagai tujuan dan kepentingan pembangunan di luar bidang kehutanan seperti : transmigrasi, pertambangan, perkebunan, peternakan, pencetakan sawah baru, dan lain sebagainya. Ternyata skala bentuknya pun berbeda-beda a. Skala kecil, masyarakat: penebangan masyarakat→ ladang (berpindah), pertanian lahan kering→ kebun/agroforest (tradisional)

b. Skala besar & skala masyarakat : pembalakan/penebangan hutan→ ‘open access’ → ladang/ pertanian lahan kering→ kebun masyarakat (contoh: karet, kelapa sawit)

c. Skala besar: pembalakan/penebangan hutan → (alih fungsi/status)→pembangunan hutan tanaman (e.g. akasia, kelapa sawit).

Beberapa bencana yang terjadi ketika fungsi hutan digantikan di antaranya

  1. Hilangnya/menurunnya penyerapan CO2 yang artinya akan membuat kualitas udara semakin memburuk,
  2. Kabut asap dari pembakaran hutan yang digantikan oleh lahan lain, selain merusak alam, kabut asap ini juga sangat berdampak buruk untuk kesehatan mahluk hidup termasuk manusia.
  3. Bencana banjir karena tanah tidak bisa menampung air lagi
  4. Belum kerugian secara ekonomi dan kesehatan

Wah, serem yaa…?

Upaya apa aja yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak-dampak dari krisis ini ?

  1. Pertama ya harus kembalikan lagi fungsi hutan itu sendiri
  2. Pemerintah, NGO, Masyarakat harus duduk bersama, bekerja sama. bawa ini adalah pekerjaan besar dan berdampak besar bukan hanya tentang individu atau golongan tertentu.
  3. Mendukung hasil hutan bukan kayu
  4. Mendukung produksi/ produk kayu berkelanjutan
  5. Mendukung ekonomi masyarakat tepian hutan
  6. Menerapkan gaya hidup mencintai bumi dengan mengurangi plastik, mengurangi konsumsi minyak sawit, penggunaan tisu dsb
  7. Aktif advokasi baik itu secara lisan dan tulisan.

Selanjutnya Pemaparan Materi oleh Ibu Amanda Katili Nonde, Plus aku kasih slidenya ya 🙂

Sumber : Pemaparan materi dari Ibu Amanda Katili

Kalau lihat data dan fakta ini jadi serem ya? its real!!! Kalau dulu aku jadi inget musim hujan ya hanya di bulan berakhiran ber (Oktober, November, Desember), kalau sekarang sudah april tapi tetep aja musim hujan dan kadang-kadang panas terik.

Di slide ini juga di paparkan aktivitas manusia yang menyumbang emisi gas kaca di Indonesia

Slide pemateri

Hampir sama yang disampaikan oleh pemateri sebelumnya bahwa aktivitas kita sehari-hari dapat berdampak besar terhadap bumi , jadi harus bijak di dalam meggunakan energi ataupun mengkonsumsi energi, agar bumi ini masih bisa dinikmati dan di warisi untuk peradaban manusia selanjutnya.

Masih ada dua pemateri lagi yang mengisi acara yakni Murni Titi Resdiana (Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim), dan Bapak Janudianto (APP Sinar Mas).

Pembahasan tentang 2 materi lagi bisa di baca di sini

 

Acara ini bisa di bilang “All you can learn more”, selain materi kami juga berkesempatan menjadi saksi acara fenomenal ala Master Chef. Kami di ajak untuk belajar mengolah masakan jamur dan juga ayam

Jamur Krispi in Wonderland

Selain itu, kami juga mendapatkan mini workshop tentang bagaiamana membuat kerajinan berbahan eco-print, jadi menggunakan bahan-bahan yang sudah di sediakan alam kemudian di oleh menjadi sebuah karya. seru deh pokoknya

Workshop membuat eco-print . dok : hellobondy

 

Setelah mengikuti acara ini saya menyadari begitu kayanya negeri ini, sumber daya alam dan manusia yang luar biasa dan memiliki potensi besar untuk terus di lestarikan dan di wariskan. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan, baik sekecil apapun itu untuk menjaga Indonesia, menjaga bumi kita.

Seperti lanjutan lirik lagu Ibu Pertiwi….untukmu Ibu Pertiwi.

Kulihat ibu pertiwi, Kami datang berbakti . 

Lihatlah putra putrimu, Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta Putramu yang setia 

Menjaga harta pusaka Untuk nusa dan bangsa

 

 

 

 

7 thoughts on “Blogger bersatu demi preservasi hutan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *