Mengakses Dana Desa untuk Perempuan,

Ada sebuah pesan masuk melalui Whatssup ” Kak, senin Ada jadwal kosong gak?”, oh ternyata salah satu rekan blogger. “kak, ntar Ada event nih tentang Dana desa, gak lama kok, kalau bisa konfirm yaa…” Ia melanjutkan pesan Di whatsup, tidak berapa lama Ku mengecek jadwal Dan ternyata Aku bisa mengatur waktu untuk hadir Di acara tersebut.Oiya, Aku jadi teringat pengalaman advokasi mendampingi kelompok-kelompok perempuan terkait Dana desa ini, tantangan Di lapangan memang beragam, Dan sepengalaman Aku Dana desa Masih belum memprioritaskan kebutuhan perempuan misalnya Dalam musyawarah desa, pengambil keputusan adalah bapak-bapak, sedangkan Ibu-ibunya disibukan dengan kegiatan domestik. Ketika Ada beberapa perempuan Yang cukup kritis namun seperti kurang ditanggapi. ini secuil aja yaa…Nah, jadi sebenernya Dana desa ini APA sih? Untuk Apa? Gimana Cara aksesnya. Sedikit banyak Aku mendapatkan gambaran Dari event “Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembagunan Desa Di Sumsel”Yang diselenggarakan Oleh Forum Merdeka Barat 9.”Dear all, reminder ntar Pas acara pakaiannya formal ya”, sebuah notif muncul Dan segera ku mengambil pakaian Yang cukup formal casual. Ketika udah sampe Di sana Ku kaget terheran Gak heran-heran banget juga, ternyata temen-temen lain tampil “beda”.

Kompal Palembang Makin kompak

Bertempat Di Pendopo Griya Agung, Senin,4 Januari 2019 Kami berenam satunya ambil poto ini bersama rekan-rekan media online Dan cetak menghadiri pers rilis Forum Merdeka Barat 9 Yang dihadiri Oleh. Wakil Gubernur Sumsel, Rektor Unsri, Dan Sekjen Kementrian Desa Dan Daerah Tertinggal memaparkan beberapa poin penting.Dana desa adalah Salah satu program Yang dilaksanakan Oleh pemerintah pusat untuk meningkatkan produktivitas masyarakat desa agar semakin sejahtera.
Menurut hasil survei Yang dilakukan Oleh BPS menunjukan pengurangan desa Tertinggal Dari tahun 2014 sebanyak 19.750 desa menjadi 13.232 pada tahun 2018. Pencapaian ini Di dukung dengan Pembagunan infrastructure,jalan Dan jembatan, membangun embung, irigasi, Serta pasar Dan BUMDES untuk meningkatkan produktivitas dengan melibatkan pendamping desa.Namun, Di Sisi lain. Khususnya Sumatra Selatan,walaupun pertumbuhan ekonomi meningkat namun tidak Berbanding lurus dengn angka kemiskinan “Yang seharusnya” bisa menurun. Sumsel sendiri berada Di posisi cukup tinggi untuk data kemisikinan. ini Adalah PR besar Dan bersam antara pemerintah, stake holder serta masyarakat.Selain itu, peran Universitas pun diharapkan agar bisa memafasilitasi solusi Yang terjadi Di masyarakat pedesaan terutama.Dana desa ini sendiri memang Masih berfokus pada infrastructure untuk memudahkan akses transportasi Dan komunikasi.Terus, bagaimana jika Dana desa ini digunakan untuk kebutuhan kespro? Seharusnya juga bisa, namun balik lagi ke musyawarah Dan fokus utama pengembangan desa. Btw, dana desa ini memang sempat jadi perhatian khusus ketika banyak berita Yang melaporkan penyalahgunaan Dana desa, namun banyak juga kisah sukses Dari Dana desa ini.Ada cerita menarik juga ketika pejabat Di desa ternyata tidak tahu jika mereka melakukan penyalahgunaan,intinya si pemerintah udah kasih Dana, Dan harus Ada fungsi pengawasan juga. Ada lagi Yang Karena ketakutan akhirnya Dana desanya tidak digunakan.Menurut saya, Dana desa ya harus merata Dan juga bagaimana semua pihak dapat Di akomodir kebutuhanya.