Dua Buah Labu Siam dan Matinya Kemanusiaan
Seorang pria di usianya yang telah melewati setengah abad hidupnya, hidup dalam kemiskinan bahkan kematianya meninggalkan kisah pilu sebagai korban penganiayaan oleh tetangganya sendiri. Sabtu petang, Cianjur, 25 Februari 2026.
Rasanya setiap hari, berita-berita sungguh membuat asam lambung bekerja lebih keras. Kondisi Indonesia dan Dunia menghantam setiap kali membuka social media. Entah mengapa saat itu aku terhenti membaca sebuah berita seorang pria berusia 56 tahun meninggal dianiya tetangganya karena mencuri dua buah labu siam. Tanpa terasa air mata ini mengucur dan menangis sejadinya.
Akupun berandai-andai
“Andai saja negeri ini lebih peduli pada rakyatnya yang miskin, mungkin ia dan keluarganya tidak akan merasa kelaparan hingga mencuri dan mati”
“Andai saja para tetangga lebih peduli melihat kondisi sekitarnya, mungkin saja saat ini mereka masih bisa tertawa dan menyapa tetangga…”
“Andai saja tetangga yang memiliki kebun sedikit berbaik hati, mungkin mereka akan menjadi tetangga yang harmonis…”
“Andai saja saat ia terbaring akibat lukanya petugas medis datang lebih awal, mungkin ia akan ikut merasakan lebaran”
Andai, andai dan mungkin menjadi hal yang harusnya logis saat itu, namun kini bapak itulah telah pergi. Meninggalkan luka, meninggalkan keluarga bahkan seorang ibu lansia yang sedang sakit.
“Itu mah udah takdir….”
Rasanya mendengar ini seakan kita menyalahkan Tuhan, padahal Tuhan memberikan kita pilihan takdir apa yang kita pilih.
Berita ini semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua, tugas kita semua untuk terus memupuk rasa kemanusian, untuk terus menyirami hati kita dengan empati, untuk terus selalu berbuat kebaikan.