Sajak berevolusi

Senja kemerahan nampak jelas dilautan langit biru

Air langit yang jatuh dibumipun tak malu ikut merayu

Burung-burung kembali kepelukan sang induk

Kalong-kalong mepersiapkan diri untuk berburu

Senja sore itu tidak biasa

Lantunan gemercik hujan tak kalah syahdu dengan rindu yang beradu

Gelap malampun bersiap untuk tiba

Dengan hati yang berdegup tidak terkira

 

“Cerita apa yang akan aku saksikan nanti” gumam sang gelap malam.

“Aku sudah menyaksikan berjuta cerita dalam usiaku, menjadi saksi mata kisah terkejam yang meremukan tulang rusuku hingga kisah pilu yang terkadang tak bisa kubendung, lalu aku terhanyut, terlelap, dan membasahi alam raya. Ohh… dunia kulihat tak pernah lagi sama, kota-kota begitu gemerlap dan tak pernah tertidur, jelas saja aku yang selalu menemani mereka, hingga mereka tidak nampak lagi didunia.

Oohh..mengapa aku semakin melemah, begitu banyak polusi mengrogoti tubuhku dan seringkali aku tak sanggup lagi. Kulihat manusia-manusia itu semakin hari semakin pintar saja, ah mereka membuat sesuatu lalu melabelinya “ini tekhnologi ramah lingkungan” kemana saja mereka selama ini setelah kekasihku semakin tersakiti, lalu mereka membuat alat-alat yang memudahkan kehidupan mereka namun merusak  kekasihku perlahan, dan kau penasaran darimana aku mendapatkan semua ini, tentu saja kekasihku yang selalu bercerita padaku, yaaah dialah kekasihku, bumi.

Demi kehidupan kalian para manusia kami rela memberikan jarak antara kami untuk kalian tinggali, lalu kami biarkan tumbuhan dan hewan melengkapi hidupmu namun kau juga memburu mereka, membiarkan paru-paru kami diracun perlahan dengan kejinya, kubiarkan kalian berkembang biak, berevolusi lalu kalian perlahan membunuh kami. Kau tau betapa menyakitkan jarak yang memisahkan kami, dan kami berkirim pesan melalui udara dan hujan, kau tau rasanya kami hanya menjadi saksi kisah kalian. Entah sampai kapan tangan-tangan kalian memperkosa kekasihku.

Wahai manusia yang selalu kau banggakan dirimu sebagai mahluk yang sempurna, berakal, dan semua label “mewah” melekat padamu, tak kusangka ternyata “kesempurnaan” itu yang melemahkan akalmu dan merusak prilakumu. Aku tidak tahu sampai kapan kekasihku sanggup dengan ulah kalian, ketika kekasihku tak sanggup lagi, aku tak mampu memberitahumu apa yang akan terjadi, tidak hanya padamu, keluargamu, bahkan tanahmu namun aghh aku tak sanggup harus menjadi saksi kisah yang merusak tulang rusuku lagi,”.